Pengepul Ramah di Cigadung Bandung




 
Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro)

Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya bertemu wakil pemilik lapak yang  ramah dan informatif. Tidak hanya menjelaskan barang rongsokan apa saja yang diterima, tetapi juga proses produksi dan jejaringnya.

Sebetulnya saya kerap melalui daerah ini, tapi tidak mengetahui bahwa bangunan  di jalan Cigadung Raya Tengah nomor 17 Bandung ini tidak hanya merupakan toko bahan bangunan tapi juga pengepul barang bekas/sampah anorganik yang sudah cukup lama. 

Teman detektif bebassampahID , Suci yang menemukan dan memasukkan ke web. Padahal pemilik lapak ini termasuk Bandar Besar, dia memiliki 3 lapak dan kendaraan pribadi (truk) untuk mengangkut sendiri barang rongsoknya. Bahkan dia memiliki pabrik pengolah menjadi biji plastik di kawasan PINDAD, jalan Kiara Condong Bandung.

Secara sederhana sampah anorganik bisa dipilah dalam 3 kelompok besar, yaitu:


  • Kertas, beraneka ragam

  • Besi , dengan jenis termurah hingga termahal.

  • Plastik, terdiri dari kurang lebih 20 jenis plastic. Hanya para praktisi lapangan yang bisa membedakannya karena plastik ini harus dipisah. Tidak bisa disatukan tatkala diproses karena berdampak menurunnya kualitas atau bahkan tidak bisa diproses.
bijii plastik hasil daur ulang (dok. Pan Era Group)



Hasil daur ulang plastik akan menghasilkan biji plastik bermutu rendah dibandingkan produk awalnya, misalnya bekas kemasan minuman (foodgrade, dan tentu saja berbahan baku biji plastik impor), jika diolah hanya akan menjadi bahan baku karung goni/karung plastik. Sampah karung goni bisa diolah lagi menjadi plastik yang jauh lebih rendah kualitasnya atau bahkan tidak diolah sama sekali jika biayanya terlampau tinggi.

Tidak demikian hal nya dengan kertas dan besi, hasil olah kedua jenis sampah anorganik ini tidak akan menurunkan kualitasnya. Contohnya, sampah kertas (kardus) akan diproses menjadi kardus kembali dan dijual tanpa mengurangi nilai jualnya.   

Tentu saja setiap produk berbeda pabrik pengolahnya, sehingga setiap harinya truk milik pak Yadi Heryadi, aktif beroperasi mengumpulkan barang rongsokan dan mengirimnya hingga ke luar kota.

pemilahan sampah (dok. Maria G. Soemitro)


Di area jalan Cigadung ini, tampak beberapa pegawai sedang berkerja, karena tidak hanya berfungsi menerima penjualan sampah anorganik tapi juga proses pra produksi. Sampah air minum  dalam kemasan (AMDK) dipisahkan dari tutupnya yang tidak bisa didaur ulang. 

Tutup AMDK berakhir sebagai sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir, sedangkan hasil pemisahannya (dalam bentuk cup yang bersih) dikirim ke pabrik pengolahan sampah plastik menjadi biji plastik.

Beberapa kegiatan juga dilakukan, misalnya mengeluarkan tembaga dari kabel. Tembaga berharga mahal, kurang lebih Rp 60.000/kg. cukup menggiurkan, bukan?

Jenis usaha rongsokan memang menjanjikan,  padat karya dan hanya dengan modal awal relatif kecil maka setiap pelaku bisa dipastikan akan mendapat profit yang cukup menjanjikan. Mereka umumnya merekrut  tukang rongsok untuk “jemput bola”membeli sampah anorganik/barang rongsokan yang sudah dipilah/belum dipilah dari rumah ke rumah. Para tukang rongsok ini umumnya menghuni bedeng di rumah yang disewa/dibangun para pengepul besar. Sehingga terjadi hubungan kerja yang saling menguntungkan atau simbiose mutualisme.

Tukang rongsok berbeda dengan pemulung. Stratanya lebih tinggi karena dia mengantongi uang cukup besar sebagai modal membeli barang rongsokan di rumah-rumah yang didatanginya. Sedangkan pemulung mengais sampah di tempat-tempat sampah untuk mencari sampah anorganik yang bisa dijual.

Menarik bukan jika memperhatikan bagaimana manusia bisa dibagi stratanya hanya karena pekerjaan. Oleh sebab itu sungguh tepat adanya GPS (Gerakan Pungut Sampah) di Kota Bandung agar warga tidak merasa jijik dan semakin peduli pada sampah. Siapa lagi yang akan peduli dan memelihara lingkungan jika bukan kita, manusia penghuni bumi yang mendambakan lingkungan asri dan nyaman dihuni?  ^_^


mau setor, ups jatuh (dok. Maria G. Soemitro)


Komentar

  1. eh kalau tembaga dari kabel sih ternyata lumayan jg harganya ya mak meski termasuknya sampah ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, ya cuma harus buka kabel dan hanya ambil isinya yang sedikit, hehehhe

      maaf baru jawab ya mak, laptopku sering ngadat, #sedih .... :)

      Hapus
  2. ada kontak nya teh? sy coba samper ke cigadung tengah tidak ada lokasi di foto tersebut. nuhun :)

    BalasHapus

Posting Komentar