Selampe eh Saputangan .......


saputangan (dok. Maria G.  Soemitro)


Punya saputangan? Sekedar punya atau menggunakannya dalam aktivitas sehari hari?

Tidak hanya solusi mengurangi limbah, penggunaan saputangan membantu kita untuk hidup sehat. Bukankah sapu tangan yang kotor akan masuk tas untuk dicuci? Sehingga  mikroorganisme berbahaya seperti virus flu atau bakteri TBC yang mungkin tersimpan di sapu tangan, tidak akan menyebar bebas di udara.

Berbeda dengan tisu sekali pakai. Tisu berpotensi menyebarkan mikroorganisme jahat. Hanya sekitar 70 %  limbah yang  dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Sisanya dibuang ke tanah kosong, jalan jalan dan sungai. Bukankah kita tidak bisa menjamin bahwa tukang sampah akan membuang sampah di tempat yang disiapkan pemerintah daerah?

Sayangnya tidak semua sependapat. Tulisan bagus dibawah ini karya  Alfian Salim memenangkan "Writing Contest Bisnis.com" tapi justru diserbu komen Tisu lovers yang seolah menuduh penulisnya sekedar mencari sensasi. Miris ya?

Karena itu tidak berlebihan penutup tulisan pak Alfian:
“Bumi ini sesungguhnya sangat indah. Namun sayangnya, ia mempunyai musuh yang sangat berbahaya; manusia.

Karena perbandingannya jelas sekali, sapu tangan terbuat dari katun dan polyester yang bisa dicuci/digunakan ulang sehingga tidak berpotensi merusak hutan.

Sedangkan tisu terbuat dari  pulp (bubur kertas). Pulp berasal dari batang pohon yang diproses secara kimia. Untuk membuat tisu, produsen harus menebang hutan untuk mendapatkan kayunya. Ini berarti terjadi penggundulan hutan yang menyebabkan luas hutan menyusut. Hutan yang telah ditebang memerlukan waktu puluhan tahun untuk pulih kembali ke keadaan semula seperti sebelum ditebang. Singkat kata, kecepatan penyusutan hutan akibat penebangan lebih cepat daripada kecepatan pemulihan atau suksesi hutan.

Menyusutnya luas hutan dapat mengakibatkan erosi tanah atau longsor. Selain erosi, kemampuan hutan untuk menyerap CO2 (karbon dioksida) juga menurun. Ini mengakibatkan konsentrasi CO2 di atmosfir meningkat dan menyebabkan tingginya suhu bumi (global warming) yang berdampak terhadap gangguan keseimbangan lingkungan hidup di biosfir bumi, seperti perubahan iklim, peningkatan permukaan air laut, penurunan keanekaragaman hayati dan genetika, serta perubahan musim tanam.

Untuk mendapatkan warna putih tisu, perlu proses pemutihan dengan senyawa klorin terhadap pulp yang berwarna coklat kehitaman. Bahan baku klorin adalah toksik, limbahnya juga masih mengandung racun dan berpotensi mencemari lingkungan. Belum lagi harus membangun pabrik-pabrik untuk mendukung kegiatan pembuatan tisu seperti pabrik plastik dan pabrik yang akan memproduksi aroma harum pada tisu.
Semua yang dikemukakan di atas belum diperhitungkan dalam biaya yang dibayar konsumen pada saat membeli tisu. Semua dampaknya tidak muncul dalam waktu pendek melainkan akan diterima akibatnya oleh generasi mendatang. Gaya hidup inikah yang diinginkan oleh kita selaku generasi sekarang tanpa mau tahu dan peduli sama sekali dengan apa yang akan terjadi dan dialami oleh generasi kita di masa depan?

Alangkah mahalnya harga yang harus dibayar oleh anak cucu kita akibat gaya hidup kita yang mendewakan tisu daripada saputangan.



Tulisan selengkapnya dibawah ini atau silakan  ke url berikut :

 http://writing-contest.bisnis.com/artikel/read/20150127/391/395802/membangun-gaya-hidup-sehat-lewat-saputangan


Membangun Gaya Hidup Sehat Lewat Saputangan

Oleh: Alfian Salim

Saputangan atau selampai adalah selembar kain berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 30 cm x 30 cm yang digunakan untuk kebersihan pribadi, antara lain mengelap tangan, menutup mulut ketika batuk dan bersin, membersihkan bagian luar mulut, menutup hidung supaya tidak menghirup debu atau mencegah bau yang tidak enak dan membuang ingus, serta menyeka air mata saat menangis atau keringat saat kepanasan. Saputangan sudah disebut-sebut dalam syair karya Catulus (85 – 87 SM). Saat itu alat pengusap keringat terbuat dari jalinan rerumputan. Memasuki abad pertama Sebelum Masehi, barulah saputangan dibuat dari kain linen. Meski sederhana, namun hanya golongan masyarakat kelas atas yang sanggup memilikinya.

Memasuki abad  XIV, banyak masyarakat Eropa menyadari bahwa saputangan adalah bagian tidak terpisahkan dari gaya busana. Dan di Italia, saputangan juga berfungsi sebagai sarana bertutur sapa di antara masyarakat kelas atas dengan cara melambai-lambaikan saputangan untuk memberi sambutan hangat kepada pemain opera atau lawan bicara.  Itu sebabnya pada zaman dahulu saputangan diperlakukan dengan sangat istimewa dan pemakaiannya yang eksklusif. Saputangan pun menjadi hadiah umum dari laki-laki yang menaruh hati kepada seorang perempuan, atau sebaliknya. Untuk yang terakhir ini  pernah terjadi di zaman penjajahan Belanda, namun  budaya tersebut kini semakin ditinggalkan oleh generasi muda Indonesia zaman sekarang. Pada abad XIX, saputangan telah menjadi pelengkap wajib dalam gaya busana di benua Eropa.

Sebagai seorang guru, telah seperempat abad lamanya di setiap pertemuan pertama pada minggu pertama di setiap tahun pelajaran baru saya selalu menyampaikan kepada murid-murid untuk membawa dan memakai saputangan dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan untuk hidup sehat disamping menyampaikan sistem pendidikan dan penilaian saya dalam pengajaran bidang studi biologi. Saya menyampaikan hal ini bukan dengan tanpa role model. Saya adalah role model itu sendiri terhadap murid-murid dan rekan-rekan seprofesi karena saya senantiasa membawa dan memakai saputangan sampai detik ini. Membawa dan memakai saputangan telah menjadi kebiasaan dan gaya hidup sehat saya yang dididik sejak kecil oleh Ibunda dan Ayahanda tercinta. Tanpa saputangan, saya merasa tidak lengkap dalam berbusana. Sekedar catatan tambahan, keluarga saya telah membudayakan pemakaian saputangan bagi semua anggota keluarga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam berbusana.

Dan fakta yang terjadi sampai detik ini juga, saya tidak berhasil mengubah gaya hidup seluruh murid-murid saya yang lebih menyukai memakai dan membawa tisu daripada saputangan, walaupun hanya untuk di lingkungan sekolah saja. Bahkan saya mencoba menawarkan bonus berupa nilai tambahan ujian bagi setiap murid yang membawa dan memakai saputangan ke sekolah setiap hari. Namun mereka bergeming dengan tawaran saya. Mungkin penggunaan saputangan telah dianggap ketinggalan zaman dan merepotkan. Benarkah demikian?

Kehidupan modern telah banyak mengubah berbagai kebiasaan arif manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mempermudah, mempercepat, dan memperingan pekerjaan manusia. Salah satu produk kehidupan modern adalah tisu. Pemakaian tisu di kota-kota besar di Indonesia adalah hal yang lazim kita temui, terutama pada kaum muda. Saat ini sudah jarang – kalau tidak dapat dikatakan tidak ada sama sekali – kita jumpai kaum muda terlebih para remaja sekolah menggunakan saputangan, kecuali kaum orangtua yang berusaia 60 tahun ke atas. Itu pun masih bisa dihitung dengan jari tangan kita.

Namun, bagi kalangan yang peduli lingkungan hidup seperti saya, memakai saputangan dapat dianggap sebagai langkah yang menarik. Pemilihan memakai saputangan adalah bersifat personal dan orang lain tidak perlu untuk ikut menilai. Jika kepraktisan yang menjadi alasan utama seseorang memakai tisu, kepraktisan juga bisa diberikan saputangan. Bahkan saputangan sesungguhnya jauh lebih pro lingkungan dan kesehatan dibandingkan tisu.

Coba kita renungkan bersama-sama penjelasan berikut. Menurut saya, menggunakan saputangan adalah jauh lebih sehat daripada tisu. Saputangan yang telah kotor dan mungkin mengandung mikroorganisme berbahaya seperti virus flu atau bakteri TBC tidak akan menyebar bebas di udara atau terisolasi karena disimpan pemakai ke dalam saku pakaian atau tas. Selanjutnya pakaian, tas, dan saputangan yang kotor tersebut bisa dicuci bersih dan mikroorganismenya pun ikut terbasmi oleh sabun atau deterjen saat mencuci, atau panas matahari saat menjemur, atau setrika saat menyetrika dan sesudahnya dapat dipakai kembali (reuse). Benar-benar memberikan sebuah gaya hidup sehat (healthy lifestyle) bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.

Bertolak belakang dengan positioning tisu yang dicitrakan bersifat disposable (digunakan untuk sekali pakai). Tisu yang telah kotor dan diduga mengandung mikroorganisme berbahaya pun ikut terbuang tanpa terlokalisasi. Dengan tindakan ini, secara tidak langsung kita pun ikut berpartisipasi menyebarkan mikroorganisme tersebut ke alam bebas dan berpotensi beterbangan di udara bebas dan akhirnya bakal dihirup oleh orang lain tanpa disadarinya. Hal ini dikarenakan kita masih belum memiliki budaya dan disiplin membuang sampah pada tempatnya.

Selain itu, tisu dibuat dari pulp (bubur kertas). Pulp berasal dari batang pohon yang diproses secara kimia. Untuk membuat tisu, produsen harus menebang hutan untuk mendapatkan kayunya. Ini berarti terjadi penggundulan hutan yang menyebabkan luas hutan menyusut. Hutan yang telah ditebang memerlukan waktu puluhan tahun untuk pulih kembali ke keadaan semula seperti sebelum ditebang. Singkat kata, kecepatan penyusutan hutan akibat penebangan lebih cepat daripada kecepatan pemulihan atau suksesi hutan.
Menyusutnya luas hutan dapat mengakibatkan erosi tanah atau longsor. Selain erosi, kemampuan hutan untuk menyerap CO2 (karbon dioksida) juga menurun. Ini mengakibatkan konsentrasi CO2 di atmosfir meningkat dan menyebabkan tingginya suhu bumi (global warming) yang berdampak terhadap gangguan keseimbangan lingkungan hidup di biosfir bumi, seperti perubahan iklim, peningkatan permukaan air laut, penurunan keanekaragaman hayati dan genetika, serta perubahan musim tanam.

 Untuk mendapatkan warna putih tisu, perlu proses pemutihan dengan senyawa klorin terhadap pulp yang berwarna coklat kehitaman. Bahan baku klorin adalah toksik, limbahnya juga masih mengandung racun dan berpotensi mencemari lingkungan. Belum lagi harus membangun pabrik-pabrik untuk mendukung kegiatan pembuatan tisu seperti pabrik plastik dan pabrik yang akan memproduksi aroma harum pada tisu.
Semua yang dikemukakan di atas belum diperhitungkan dalam biaya yang dibayar konsumen pada saat membeli tisu. Semua dampaknya tidak muncul dalam waktu pendek melainkan akan diterima akibatnya oleh generasi mendatang. Gaya hidup inikah yang diinginkan oleh kita selaku generasi sekarang tanpa mau tahu dan peduli sama sekali dengan apa yang akan terjadi dan dialami oleh generasi kita di masa depan? Alangkah mahalnya harga yang harus dibayar oleh anak cucu kita akibat gaya hidup kita yang mendewakan tisu daripada saputangan.

Bersampingan dengan kepraktisan, saputangan merupakan produk yang pro lingkungan dan sehat. Untuk membuat sehelai saputangan dibutuhkan kain. Kain didapat dengan menenun benang. Benang diperoleh dengan memintal buah kapas. Untuk mendapatkan buah kapas mau tidak mau kita harus menanam pohon kapas, bukan menebang. Dengan menanam pohon kapas, berarti kita ikut melakukan reboisasi sekaligus mencegah penggundulan hutan. Gangguan keseimbangan lingkungan hidup seperti erosi, perubahan iklim, peningkatan suhu dan permukaan air laut, polusi serta penurunan keanekaragaman hayati dan genetika juga menurun. Akibatnya lingkungan hidup kita pun menjadi sehat dan asri.

Kini semuanya terpulang kepada pribadi kita masing-masing. Mau pilih mana: tisu atau saputangan? Yang pertama memberikan kepraktisan yang tidak bersahabat dengan lingkungan hidup dan kesehatan sedangkan yang terakhir memberikan sebaliknya. Yang pasti, saya tetap mempertahankan budaya perilaku saya yang telah dididik oleh orang tua saya semenjak kecil yakni membawa dan memakai saputangan sebagai bagian dari kelengkapan berbusana saya. Saya tidak peduli jika untuk ini saya harus menjadi seorang lone ranger dalam membangun gaya hidup sehat lewat saputangan di belantara para pemakai tisu.


Namun sesungguhnya Ibunda dan Ayahanda sayalah yang berhasil mengubah diri mereka menjadi pembawa dan pemakai saputangan. Mereka adalah contoh panutan yang benar-benar menjadi suri teladan yang sukses membuat saya dan adik saya meniru role model ini dan menjadi pengikut pembawa dan pemakai saputangan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, keluarga saya telah menjadi pembawa dan pemakai saputangan sampai detik ini. Namun harus saya akui dengan sportif, jujur, dan transparan bahwa role model keluarga saya ini belumlah mampu mengubah warga Kota Medan tempat tinggal saya membangun gaya hidup sehat lewat saputangan. Apalagi hendak mencoba mengubah negara dan dunia. Ah, seperti menggantang asap saja saya ini.
Jika pada penerapan Kurikulum 2013 di seluruh satuan pendidikan di wilayah Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Mohammad Nuh, di tahun terakhir masa jabatannya menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2014 tentang “Pendidikan Kepramukaan Sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib pada Pendidikan Dasr dan Pendidikan Menengah” pada tanggal 02 Juli 2014, saya pun berharap Bapak Anies Bawesdan mau mengambil langkah berani menerbitkan peraturan menteri tentang kewajiban bagi seluruh peserta didik termasuk tenaga pendidik dan kependidikan untuk membawa dan memakai saputangan di lingkungan sekolah sebagai langkah kecil dan sederhana untuk menumbuhkembangkan perilaku pro lingkungan.

 Ya… mungkin saya hanya utopis. Sebagai penutup, saya menuliskan kembali pernyataan salah seorang filsuf Jerman: “Bumi ini sesungguhnya sangat indah. Namun sayangnya, ia mempunyai musuh yang sangat berbahaya; manusia.

Komentar