Sekali Tepuk Banyak Tempat



 
deretan lapak reparasi dan jual beli besi di terusan Pasir Koja (dok. Maria G. Soemitro)


Jika beberapa waktu lalu saya menulis judul , satu kali tepuk dua tempat. Maka kali ini satu kali tepuk bisa banyak tempat ^_^  ……, penyebabnya banyak banget pengepul dan tempat reparasi di jalan Terusan Pasir Koja Kota Bandung, suatu lokasi hasil barter dengan detektif #BebasSampahId yang lain, Rezza.

Khusus kali ini saya ingin bercerita tentang lokasi jalan Pasir Koja ini dulu ya. Suatu lokasi yang saya harap banget dikunjungi bapak Ridwan Kamil, walikota Bandung atau bapak Oded, wakil walikota Bandung. Karena gersannngggggg, ngga berasa sedang di Bandung. Secara dalam satu hari cuaca sedang  silih berganti antara panas terik dan hujan dengan cepatnya, wuaduh mereka yang terbiasa walking-walking di jalan Dago atau jalan Riau akan kaget karena bak bumi dengan langit dibanding jalan Pasir Koja. 

Semula agak bingung juga memetakan rute kesana. Setahu saya jalan Terusan Pasir Koja bisa di tempuh dengan menggunakan angkutan umum Dago – Caringin ( Sering nunggu bus arah Sukabumi disini ^_^).  Tapi rasanya kok jalan Pasir Koja berada di wilayah selatan jalan Oto Iskandar Dinata, itu lho area pemakaman sesepuh Kota Bandung terusssss ke selatan ke wilayah Tegal Lega. 

Rupanya daerah Pasir Koja dan Terusan Pasir Koja memang di wilayah selatan, cukup jauh tapi dekat  dengan Tegal Lega ^_^. Hmmmm, maksudnya karena Tegal Lega merupakan lokasi yang cukup sentral untuk kota Bandung. Maka bisa jadi ancer-ancer deh.  Terlihat kok di peta koordinat. 

Yang pasti setiap hendak ke daerah selatan Kota Bandung, saya selalu membayangkan pemandangan tumpukan sampah, selokan mampet dan gersang tiada terkira. 

Bener aja. Sesampainya di jalan Terusan Pasir Koja, debu dan sampah plastik berterbangan menyambut kedatangan saya (lebay mode on  ^_^  ) ……………

Terik panas, keringatan, pulsa habis. Lha ini kok apes bingittss… :P  Untung daerah selatan yang dipenuhi toko tersebut menyelipkan toko penjual pulsa elektronik, sehingga saya bisa menelepon pemilik lapak Purnama Service. Beruntung pisan, karena penerima telepon menyebut dirinya bernama pak Aep, (tapi kok katanya bukan pemilik Purnama Service? #bingung)  dan jaraknya hanya sekitar 100 meter dari lokasi saya menelepon. Tepatnya tempat pak Aep terletak di depan RM Manjabal. Wah ya gampang atuh  ^_^

Di depan RM Manjabal ternyata banyak banget lapak, semacam lapak liar karena bukan bangunan permanen. Pak Aep bersikukuh dirinya bukan pemilik Purnama Service, karena bisnisnya jual beli besi bekas, khususnya onderdil. Nah lho.
Ah, untunglah Allah Maha Baik. Tidak berapa lama ada seorang bapak bilang bahwa Purnama Service ada disebelah lapak yang hampir saja saya wawancarai. Olala kok bisa ya? Pemilik telepon berbeda dengan nama lapaknya. dan mungkin karena saya fokus melihat ke dalam isi lapak, sehingga kurang memperhatikan bahwa nama lapak tertulis jelas berikut nomor teleponnya. Ya, ampunnnnn....... ^_^

Oke deee…, saya pun pindah lapak dan mengobrol dengan pak Mulyadi pemilik lapak Purnama  Service. Dia khusus mereparasi pompa air listrik, yang murah (bermerk baru terdengar ^_^) hingga pompa listrik terkenal karena wara-wiri di layar kaca.

Ada 2 lapak reparasi yang menjadi tugas saya. Asyik banget karena berdampingan. Ingin sih mewawancarai lapak-lapak lain. Termasuk para pengepul yang tercantum di list tugas Rezza. Ceritanya sedang berbaik hati  ^_^, kasihan rumah detektif yang mahasiswa ini nun jauh disana, di jalan Setiabudi (Bandung Utara) Kan lumayan jika tugasnya saya selesaikan dan tugas saya … #ups pamrih … :D  :D

Sayang, setelah saya cek ternyata tidak ada satupun lapak yang cocok dengan tugas Rezza. Nama pemiliknya beda, sementara nomor telepon tidak tercantum.
Ya sudahlah, saya interview 2 lapak yang sudah deal dengan Rezza dan Alhamdullilah ada ^_^

Ini dia lapak pak Mulyadi pemilik Purnama Service.

Pak Mulyadi di depan lapaknya (dok. Maria G. Soemitro)

Seusai wawancara pak Mulyadi, saya mewawancarai pak Cece, pemilik Cahyana Service yang rupanya ada ikatan persaudaraan. Asyik juga ya, keahlian kreatif yang ditularkan, seperti keahlian memangkas rambut yang konon ditularkan antar generasi asal Tasik yang urban ke Bandung.


Kisah lain tentang kaum urban Bandung yang menarik untuk ditulis ^_^

Berikut ini foto-foto wilayah Jalan Terusan Pasir Koja, cekidot:


jalan Terusan Pasir Koja yang gersang (dok. Maria G. Soemitro)
deretan toko grosir plastik dan styrofoam tentunya. Biang kerok sampah (dok. Maria G. Soemitro)
Ini sih sama dengan Bandung Utara, dimana-mana PKL dan parkir liar (dok. Maria G. Soemitro)



diantara pertokoan, menyelip hunian asri lengkap sumur galinya (dok. Maria G. Soemitro)


tidak hanya di Bandung Selatan, di Bandung Utarapun warga gatel melihat tanah kosong : untuk buang sampah! (dok Maria G. Soemitro)

Komentar