Warisan Kok Sampah ....... ^^


“Yurrrr…… sayur bu ………sayurrrrr……”.

Suara pedagang sayur memecah keheningan kompleks, membuat saya bergegas  mematikan kompor dan keluar rumah. Hari ini harus masak karena kemarin si bungsu mengeluh bosan  dengan lauk-pauk yang tersaji di meja makan. Penyebabnya mungkin akhir-akhir ini saya sering membeli makanan matang, demi kepraktisan.

Pedagang sayur yang semanis gula jawa, rupanya sudah berhenti di depan rumah ibu Selsa, tetangga samping rumah. Seperti biasa ibu Selsa selalu membawa wadah sendiri untuk berbelanja. Tidak mau menerima kantung plastik (keresek). “Ah, kantung plastik sesampainya  di rumah biasanya langsung dibuang. Karena mau disimpan, menuh-menuhin rumah. Tapi kalau langsung dibuang, nambahin sampah kota, baunya itu lhoo……”, kata bu Selsa.
1347797671568324453
wadah belanja, mengurangi keresek (dok. Maria Hardayanto)
Upz, saya lupa…………….segera saya masuk ke dalam kembali untuk mengambil wadah belanjaan.  Barang  yang terlihat dan terdekat adalah panci kosong bekas merebus air, maka jadilah sang panci saya bawa untuk emm…………, belanja apa ya?

“Pagi bu Selsa, belanja apa nih? Saya bingung, mau masak yang mudah aja untuk anak-anak.  Punya ide bu? Setiap melihat barang dagangannya bu Nani ini saya selalu bingung. Semua pingin tapi ngga nyambung”.

“Sayur lodeh dengan bacem tempe gimana? Cepat kan, paling lama hanya sejam”.
“Oiya, saya punya bumbu dan santan instan untuk sayur lodeh. Boleh juga idenya, mbak Selsa”.
“Wah saya nggak pernah menggunakan bumbu dan santan instan bu Maria. Perasaan lebih enak bumbu buatan sendiri deh. Aman lagi, kita nggak tahu yang serba instant mengandung zat pengawet nggaknya. Membuat bumbu sendiri nggak nyampah, harganya juga lebih murah kan?”.

Sejenak saya termangu mendengar ucapan mbak Selsa. Duh iya yah…………Selain lebih mahal, tidak ada jaminan bumbu instan menggunakan bahan segar dan tanpa zat pengawet. 

Juga bekas kemasan bumbu instan yang pastinya akan menimbulkan sampah sulit terurai.  Apabila 30 juta ibu rumah tangga di Indonesia menggunakan bahan instan setiap harinya maka berapa jumlah sampah yang terkumpul?  Sebaliknya  bahan makanan berkemasan dihindari,  berapa timbulan sampah yang bisa dikurangi?
1347805901457892004
bumbu asli vs bumbu instant (dok. Maria Hardayanto)
Sampah bekas kemasan bahan masakanpun umumnya tidak dapat direcycle. Penanganan pasca dibuang ke TPS menjadi sulit karena sisanya mencemari bekas kemasan lainnya. Juga mudah bau. Akibatnya berantai, pengepul malas mengurusi sampah seperti ini. Produsen pembuat biji plastik enggan karena biaya produksi tidak seimbang dengan harga jual biji plastik kemasan bekas.

“Minta resep sayur lodehnya dong mbak Selsa. Sewaktu arisan kemarin, sayur lodehnya buatan mbak Selsa kan? Ajarin dong ……”, rayu saya. Karena sayur lodeh mbak Selsa benar-benar enak. Setiap pertemuan dengan agenda makan-makan, mbak Selsa selalu didaulat untuk memasak. Rahasianya mungkin karena selalu menggunakan bahan dan bumbu segar, bukan instan.

“Lho sama dengan yang lain. Tapi kalau penasaran yuk kita masak bareng. Di rumah saya atau di rumah ibu Maria?”.
“Podo wae (sama saja) mbak. Tapi kayanya di rumah mbak Selsa aja deh.Persediaan bumbu ditempat saya nggak komplit. Kan biasanya pakai bumbu instan”, jawab saya seraya menyeringai tanda berbuat salah.

Siang itu pun kami masak bareng. Bu Selsa menunjukkan bumbu-bumbu sayur lodeh, yaitu bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, kencur :
1347798059612082127
bumbu sayur lodeh (dok. Selsa Rengganis)
Juga sayuran yang diperlukan: kacang panjang, terong, labu siam,
13477982421834997120
bahan baku sayur lodeh (dok. Selsa Rengganis)
Seperti biasa kami meracik bumbu, menggongsonya (menumis) agar harum dan tidak berbau mentah kemudian memasukkan air.  Satu persatu sayuran masuk dan yang terakhir santan hasil memarut yang ternyata tidak lama.

Hasilnya?  


Mmmm………harummmmm. Rasanya benar-benar top markotop. Sayang sayur lodeh saya belum jadi. Bedanya saya memasukkan tahu kuning ke sayur lodeh karena keluarga saya sangat menyukai tahu.

Tapi yang terpenting, hari ini saya sudah mengurangi sampah. Khususnya sampah anorganik karena sampah organik mudah terurai di tanah. Tapi sampah anorganik seperti bekas kemasan bisa dipastikan hanya akan berakhir di tempat pembuangan sampah akhir (TPA) dan baru terurai ratusan tahun kemudian. Wah, warisan untuk anak cucu dong?

Pasti anak cucu kita akan ngomel: “Warisan kok sampah!” :P

Hasil Kolaborasi Maria G. Soemitro dan Selsa Rengganis
untuk Weekly Photo Challenge: Foto Kolaborasi

Komentar