Bank Sampah, Paradigma Salah Kaprah

Sandi Bayu Prawira
doc : Sandi Bayu Perwira
Ketika baju seseorang kotor, apakah dia harus mengeluarkan uang untuk menjadikan baju bersih kembali atau justru menerima uang ?

Lazimnya sih dia harus mengeluarkan uang , entah untuk membeli sabun colek, deterjen, pewangi atau untuk membayar jasa cuci kiloan bahkan binatu/laundry.
 
Analogi baju kotor ini bisa menjadi pembanding ketika seseorang harus membersihkan rumahnya dari kotoran dan sampah, dia mengeluarkan biaya entah untuk membeli sapu, tempat sampah, kain pel, dan cairan pembersih lantai .

Anehnya paradigma ini ingin diubah dengan dikampanyekannya Bank Sampah. Seolah-olah proses membersihkan sampah (membuang), bisa digantikan dengan menabung di bank Sampah.
Mungkin tujuan Bank sampah adalah mengiming-imingi warga agar mau memilah sampah sehingga lingkungannya bersih. Tetapi menetapkan tujuan hendaknya jangan bersifat pragmatis tapi keadaan yang ideal untuk jangka panjang. Selain itu pertimbangkan juga efisiensi dan efektifitasnya. 


Sebelum perdebatan baik buruknya Bank Sampah, ada baiknya kita ketahui apa sih Bank Sampah ?
Penggagasnya adalah Bapak Bambang Suwerda, beliau mendirikan Bank Sampah Gemah Ripah di dusun Badegan, Kelurahan Bantul, Kecamatan Bantul DIY.
Secara temporer warga menyetorkan berbagai macam sampah yang dicatat sukarelawan-sukarelawan dalam sebuah buku Tabungan Bank Sampah. Setelah terkumpul beberapa lama, dananya baru bisa dicairkan dengan alasan apabila langsung diuangkan, jumlahnya terlalu kecil.

Sekilas ide ini brilian, sehingga banyak daerah ingin mereplikasikannya. Bahkan beberapa program lingkungan hidup di beberapa kota besar sudah melaksanakan dengan cara memberi materi tentang Bank Sampah dalam pelatihan pengelolaan sampah.

Mereka menafikan bahwa :
· Setiap daerah mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sebagai contoh program serupa jelas tidak dapat diterapkan di perumahan yang mayoritas penduduknya kaum urban yang sibuk. Bahkan para pembantu rumah tanggapun sibuk sehingga suasana guyub yang melahirkan sukarelawan-sukarelawan jelas jauh dari impian. Menurut mereka, repot amat dan gak perlu banget catat mencatat seperti itu, panggil aja tukang rongsokan yang lewat setiap jam didepan rumah, yang siap memberi layanan memilah , mengikat, menimbang dan berakhir dengan pembayaran cepat dan ……..selesai !!

· Perlu digaris bawahi perumahan urban semacam diatas lebih banyak memproduksi sampah anorganik daripada sampah organik. 

· Pelaksanaan program Bank Sampah didaerah pak Bambang Suwerdapun belum berjalan mulus, penyetornya kebanyakan anak-anak yang datang sesudah pengeras suara mengumumkan tentang acara pelaksanaan penyetoran sampah hari itu. Hal tersebut dimungkinkan karena warga masih enggan memisah sampah , bisa dibayangkan apabila pak Bambang Suwerda pindah dari desa Badegan, program Bank Sampah mungkin akan terhenti. 

· Program Bank Sampah bertolak belakang dengan pemahaman lingkungan hidup yang berkelanjutan dimana idealnya adalah zero waste atau tidak ada sampah yang dibuang dari setiap rumah tangga karena mereka wajib mengelolanya. Dan jalan menuju kesana adalah minimalisir sampah.

· Coba kita runut apa saja sih isi sampah dan sejauh mana kita bisa mengelolanya. Paling banyak pastinya adalah sampah sisa makanan dan sampah dapur, dengan mudah kita bisa mengkomposnya atau memasukkannya ke lubang biopori. Sampah kaleng, plastik, botol dan kertas bisa langsung diberikan ke pemulung atau dijual ke tukang rongsokan. Khusus kantung plastik sebaiknya dihindari karena pemulungpun ogah menerima. Cara terbaik adalah selalu membawa tas reuseable untuk belanja. Jadi dengan sedikit niat untuk memperbaiki lingkungan sebetulnya kita bisa meminimalisir sampah tanpa perlu mendirikan Bank Sampah.

· Tenaga dan waktu para sukarelawan yang mengumpulkan, menimbang dan mencatat sampah sebetulnya kontraproduktif karena banyak tenaga pemulung dan tukang rongsokan yang bisa mengerjakannya. Jadi mengapa harus rebutan lahan dengan mereka ?

Dari beberapa uraian diatas, bisa disimpulkan bahwa Bank Sampah mungkin sukses di desa Badegan, tetapi tidak dapat dengan mudah diaplikasikan di daerah lain mengingat kompleksnya masalah di setiap daerah.
Untuk tujuan jangka panjang, ide pembentukan Bank Sampah jelas bertentangan dengan paham lingkungan hidup yang berkelanjutan. Setiap sisa produk yang dikonsumsi harus mudah direcycle sehingga produksi sampah rumah tangga bisa diminimalisir. Dan hal tersebut tidak mungkin terlaksana apabila kita tidak memulainya dari sekarang ! 


Ada satu kisah yang menyesakkan dada ketika saya mengikuti rombongan bapak Camat dan jajarannya inspeksi ke suatu RW (Rukun Warga) karena RW tersebut termasuk peserta lomba program Lingkungan Hidup.
Dengan menggebu-gebu pak RW dan tim PKK bercerita tentang kesuksesan daerah mereka mengelola Bank Sampah. Menurut laporan mereka hasil pemilahan dan penjualan sampah bulan lalu mencapai angka dua juta rupiah lebih, sungguh angka yang fantastis.

Karena penasaran saya bertanya :
“ Apa saja yang dipilah dan dijual bu ? Karena setahu saya orang masih sulit sulit memilah sampah, apalagi menjualnya”
“ Oh, warga disini sudah sadar untuk memilah sampah , bu.”
“ Sampah plastik ada yang membeli ? Bagaimana sampah dapur dan sisa makanan ?”
“ Oh sampah plastik terjual semua sedangkan sampah organik ditampung oleh pasar.”
Sekedar ditampung atau dibeli ?”
“ Dibeli bu”

Hmm, sayapun manggut-manggut heran. Karena apabila warga di daerah ini sudah mampu memilah dan mendirikan Bank Sampah yang sukses, jelas ini suatu prestasi besar.

Untunglah bukan kebiasaan saya untuk selalu mengikuti rombongan pejabat. Di suatu pengkolan tidak jauh dari tempat pak Camat berbincang-bincang dengan bawahannya, saya melihat tukang sampah lengkap dengan gerobag sampahnya.

Loh ! isi gerobag sampahnya kok sama saja dengan daerah lain yang belum memilah sampahnya.
Waktunya ambil sampah, mang ?”
“ Iya neng, seminggu dua kali.”
“ Kok sampah dari rumah bercampur begini mang, belum dipilah-pilah ?”
” Ya belum atuh neng, mang ajah yang misah-misahin, ada kaleng, bekas air mineral,kardus.”
“ Oh, hasilnya dijual ama emang ?”
“ Iya, kadang dapat Rp. 20.000, kadang Cuma Rp. 10.000,00, lumayanlah.”
“ Sampah dapurnya juga dijual, mang ?”
“ Ah si eneng, ya ngga atuh, siapa yang mau ? Sampah dapur ama sampah plastik begini gak ada yang mau beli neng, jadi dibuang aja ama emang.”
 
(Sampah plastik yang dimaksud tukang sampah adalah plastik bekas kemasan yang penuh dengan tulisan dan warna)

Ah, bapak RW………..ah, ibu PKK, hari gini masih ABS !!!

(bersambung)

Komentar