Iklan Politisi Seharusnya Bermanfaat


Sudah menjadi rahasia umum bahwa di setiap hari Besar, termasuk  Ramadhan dan Lebaran menjadi ajang kampanye terselubung  tokoh dan partai politik. Tulisan “Selamat Berpuasa” dan “Selamat Idulfitri” bertaburan dalam bentuk spanduk hingga merambah menjadi  iklan jor-joran di media cetak televisi.

Cibiran? Pastilah ada. Karena yang mencibir dan yang menghabiskan dana milyaran rupiah untuk iklan mempunyai hak sama dalam menyuarakan pendapat. Tetapi sebetulnya ada langkah bijak yang dapat mengganti cibiran menjadi pujian. Yaitu menyisipkan semangat peduli lingkungan dalam iklannya.  Iklan tokoh politik dengan adegan mengantongi kulit permen akan terlihat lebih smartdaripada adegan lebay lainnya. Adegan berkendaraan sepeda juga mempunyai nilai lebih dibanding adegan menanam pohon diiringi tepuk tangan cameo. Sambil menyelam minum air, sambil menebar citra mengedukasi masyarakat.

Mengapa adegan penuh semangat untuk menyelamatkan lingkungan? Karena di bulan Ramadhan dan hari Lebaran konsumsi masyarakat meningkat. Dan hukumpun berlaku. Semakin tinggi tingkat komsumsi masyarakat maka akan makin banyak sampah yang dihasilkan.

Khusus di bulan Ramadhan setiap rumah tangga akan menambah jenis dan porsi menu berbuka puasa. Lauk pauk menu utamapun sering berubah dan bertambah dengan alasan “takut lapar besok”. Demikian pula di hari Lebaran dan hari-hari libur pasca Lebaran. Begitu banyak makanan ekstra, begitu banyak jajanan.

Akibatnya tentu saja volume sampah kota bertambah. Di bulan Ramadhan, hari-hari Lebaran dan hari-hari libur Lebaran di tempat rekreasi. Kepala Dinas kebersihan DKI memprediksi sampah kota Jakartameningkat 5 - 10 % dari volume awal 6.500 ton. Di Lhokseumawe diprediksi volume sampah meningkat 35 %. Sedangkan walau Dirut PD Kebersihan Bandung memprediksi sampah “hanya” meningkat 55 ton menjadi 1.155 ton sampah yang diangkut ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA), Dinas Pengelolaan Persampahan, Pertamanan dan Pemakaman Sukabumi berani memastikan sampah yang diangkut ke TPA Cikundul meningkat 300 % menjadi 300 ton.

Perbedaan prediksi disebabkan setiap Kepala Dinas hanya menghitung berapa kali truk wara-wirimengangkut sampah dan laporan volume sampah yang diangkut. Sampah di kota besar tidak terangkut semua karena jumlah armada truk dan jarak tempuh dari TPS ke TPA yang cukup jauh menyebabkan warga kota besar terpaksa membuang sampah ke tepi jalan, sungai atau membakarnya. Tidak demikian halnya dengan kota kecil yang sanggup mengatasi masalah lonjakan sampah penduduknya.

Masalah sampah terjadi ketika sampah sudah menggunung. Metode yang diterapkan memang seperti itu : Kumpul, angkut dan buang. Sehingga ketika jumlah penduduk Indonesia melonjak setiap tahunnya dan harga bahan bakar minyak(BBM) makin membumbung, biaya tinggilah yang terjadi. Padahal sampah yang dibuang mengandung banyak potensi. Diproses menjadi pupuk, menjadi biji plastik, daurulang produk lain bahkan menjadi energy listrik.

Penyelesaian masalah sampah tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah daerah sendiri. Perlu peran serta masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh politik dan para ulama. Apabila setiap ulama bersedia menyisipkan pesan lingkungan di setiap tausiahnya maka bumi akan terhindar dari bencana lingkungan. Banyak sekali ayat AL Quran yang mengajak umat manusia memelihara bumi yang menghidupinya yang anehnya sering terabaikan.

Komentar