Beli Air Minum, Berbonus Sampah!




Air minum apakah yang sekarang selalu disediakan di acara resepsi (resepsi apapun), arisan bahkan menjamu tamu ? Jawabnya pasti : air mineral dalam kemasan! Tidak hanya resepsi di gedongan, pesta pernikahan dengan organ tunggal di gang senggolpun selalu menyediakan air mineral dalam kemasan berbentuk gelas.

Seorang teman aktivis lingkungan yang ingin mengadakan pesta resepsi “semi zero waste” dengan menyediakan air minum dalam gelas beling terpaksa harus mengurungkan niatnya karena pihak catering menetapkan harga air minum dalam gelas beling 2 x lebih besar dibanding air dalam kemasan.

Benarkah air kemasan lebih murah ? Sebuah artikel berjudul Air Minum Dalam Kemasan, Beli Air atau Sampah membantu kita berhitung sebagai berikut :

Air mineral dalam gallon yang berisi 19 liter biasanya seharga Rp 9.000 – Rp 11.000. Apabila kita tetapkan berdasarkan harga termahal maka harga air mineral per ml adalah : Rp 11.000 : 19.000 ml = Rp 0.58/ml

Berapa  harga air mineral dalam gelas atau botol dipasaran ? Umumnya air mineral dalam gelas plastik @ 240 ml @ Rp 500 sedangkan air mineral dalam botol @ 600 ml @ Rp 2.000.
Padahal seharusnya air dalam gelas plastik hanya seharga : 240 ml @ Rp 0.58 = Rp 139,20 sedangkan air mineral dalam botol 600 ml @ Rp 0,58 = Rp 348.

Berarti sampah gelas air mineral yang kita beli adalah Rp 500 – Rp 139,20 = Rp 360,20 sedangkan sampah botol yang kita beli Rp 2.000 – Rp 348 = Rp 1.652. Apabila dalam sehari minimal kita membeli dan minum 2 botol air mineral, maka dalam setahun kita mengeluarkan uang 365 x 2 x Rp 1.652 = Rp 1.205.960

Tentu saja kita bisa berkilah, “Ah, Aku bisa bayar!”

Harga yang kita bayar untuk sampah plastik memang sangat murah tetapi biaya lingkungannya sangatlah mahal. 
Bahan baku plastik memerlukan proses jutaan tahun sebelum ditambang dan dipolimerisasi menjadi biji plastik. Padahal cadangan minyak bumi yang merupakan bahan baku plastik hanya tersisa belasan tahun. Hingga harga keekonomian sampah plastik yang kita beli satu dekade lagi pasti meningkat puluhan kali lipat.

Seharusnya mulai ada terobosan bahan substitusi plastik tetapi karena kiblat kita Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa santai-santai saja, kitapun ikutan nyantai.Gimana nanti sajalah !

Masalah selain ancaman harga plastik yang membumbung tinggi adalah : sampah. Sampah botol dan gelas kemasan air mineral tidak semuanya bisa di daur ulang. Diperkirakan hanya 10 % yang mampu dikumpulkan untuk didaurulang. Karena system yang memungkinkan sampah terpilih dan terkumpul sesuai jenisnya belum berlaku di Indonesia. Sehingga sampah kemasan air mineral berserakan di jalan raya (okelah, bisa terjangkau pemulung ), di sungai yang berakhir ke laut (mengakibatkan banyak biota laut mati karena memakannya). Bahkan ada teman yang paranoid sesudah melihat tontonan televisi tentang pemalsuan makanan dan minuman dalam kemasan menjadi rajin menggunting semua bekas kemasan. Yaaa….. pemulungpun ogah memulung serpihan bekas kemasan !
beakhir di sungai........
beakhir di sungai……..
Jadi apa solusinya ? Membawa tempat minum apabila bepergian sehingga tidak terpaksa membeli air kemasan. Pembeli adalah Raja. Dia adalah Penentu Pasar ! Apabila semakin banyak pemesan catering meminta air dalam gelas beling maka pengusaha catering pun akan bersaing untuk memberikan harga yang masuk akal. Karena sesuai kalkulasi diatas, bukankah harga air tanpa kemasan harusnya lebih murah ?
13011925741975424783
gelas beling berjejer di Novotel Bandung
13011928071449863670
air minum di pengajian (dok. Maria G. Soemitro)
sumber foto : disini

Komentar