Surat Kabar Cetak vs Surat Kabar Online






13098735551447936283
perlu ngga sih?
Pengumuman Seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) memang sudah lewat beberapa hari yang lalu. Tapi hari ini saya baru tahu bahwa surat kabar harian lokal memuat daftar nama peserta yang lolos. Wow….9 halaman !! Itupun hanya pengumuman lokal panitia Bandung. Betul-betul pemborosan kertas yang sulit dimengerti. Bukankah untuk mengetahui lulusnya tidaknya seorang calon mahasiswa bisa dilihat via internet, sms, atau telfon langsung karena ada call centre 0804-1-450 450panitia lokal(panlok)pun umumnya mempunyai lebih dari 1 nomor telefon.

Hari giniii……. mana ada calon mahasiswa yang gagap teknologi (gaptek)? Warung Internet (warnet) tersebar hingga pelosok kota. Anak SD sudah mahir bersms ria. Bahkan supir angkutan umum, tukang becak hingga tukang rongsokan sudah akrab dengan teknologi baru ini.
Jadi haruskah mengorbankan begitu banyak kertas koran hanya untuk memuat kelulusan yang dibaca sekian detik kemudian dilupakan? Bukankah mayoritas pembaca tidak memerlukan daftar pengumuman itu? Berapa banyak pohon yang ditebang percuma? Karena untuk menghasilkan 2.700 eksemplar kertas koran di butuhkan satu lahan pepohonan kayu keras setinggi 4 kaki panjang 4 kaki dan lebar 8 kaki.Belum lagi kemungkinan besar kertas tersebut berasal dari illegal logging
Perbandingan seperti inilah yang ingin saya ungkapkan pada Pungky yang mempertanyakan kehadiranFreez, versi cetak Kompasiana. Mengapa Kompasiana tidak puas sekedar hadir di jagat maya? Mengapa harus membuang—buang kertas? Bukankah sebagai penulis di Kompasiana otomatis kita ikut berkontribusi pada kerusakan alam khususnya hutan ?
Jawabannya adalah ya, apabila isi Freez adalah tulisan sekali baca. Hasil kalkulasi jejak karbon Freez pasti tinggi ketika kalkulasi hanya berkisar untung dan rugi secara kasat mata.
Tapi lihatlah foto ini.
1309874440312153711
membaca di pintu kios rokok (dok Maria G. Soemitro)
Foto ini saya ambil dari balik pintu angkutan umum. Foto seorang ibu yang sedang menunggu dagangannya di pintu kios rokok.
Pemandangan seperti ini sebetulnya lumrah. Khususnya di siang hari. Seorang pemulung yang beristirahat dan membaca selembar surat kabar yang kebetulan diketemukannya. Tukang parkir menunggu di tempat parkiran sambil membaca koran bekas. Tukang becak, pedagang kaki lima (PKL), tukang rongsokan. Semua membaca surat kabar bekas di waktu rehatnya. Semuanya berpenghasilan sekitar Rp 10.000 – Rp 30.000 per hari sehingga suatu kemewahan apabila harus mengeluarkan dana untuk membaca secara online. Dan, mereka adalah mayoritas penduduk Indonesia!
Mereka tidak membutuhkan keaktualan berita. Karena hal tersebut cukup didengar dari teman-temannya, misalnya ketika Bapak SBY datang ke Sabuga, Bandung sehingga membuat macet dimana-mana dan mengakibatkan turunnya pendapatan harian mereka. Mereka juga tidak membutuhkan data aktual tentang harga gas atau harga premium yang naik karena mereka sudah terlalu enggan memikirkan dampaknya.
Mereka membutuhkan ilmu dan informasi yang membuat mereka bertambah pandai. Misalnya tentang penyakit A sampai dengan penyakit Z yang sering diulas kompasianer yang berlatar belakang kedokteran. Kisah situasi dan kondisi di luar negeri yang rajin dibagikan kompasianer yang kebetulan berada disana. Tentang TKI, gossip, olahraga hingga politik semua ada, tapi yang terpenting semua ditulis ala Kompasianer. Mudah dimengerti dan enak dibaca. Tidak lupa tulisan-tulisan fiksi bermutu yang tentunya menambah kaya Kompasiana yang dirangkum, diedit dan diterbitkan dengan nama : Freez.
Itulah manfaat yang sangat saya harapkan dari Freez. Tidak sekedar mengekor Kompas edisi cetak yang notabene adalah ayah kandungnya. Tetapi menyuguhkan tulisan-tulisan bagus yang selama ini hanya dapat dijangkau mereka yang mempunyai akses ke internet.
Harusnya Freez tidak sekedar hadir, tidak sekedar bertujuan memberi imbalan pada penulisnya tetapi menyebarkan banyak tulisan bermanfaat yang dibutuhkan masyarakat. Karena penggunaan kertas koran membutuhkan pengorbanan sumber daya alam yang luar biasa. Tapi kalau manfaatnya adalah mencerdaskan anak bangsa, bukankah itu adil?

Komentar