Reusable Bag Solusi Pengganti Kantung Plastik



reusable bag, hasil karya pak Asep


Ketika berbelanja di pasar tradisional, pernah melihat seorang ibu yang menggunakan ulang kantung plastiknya ?
Pernah memperhatikan bahwa kantung plastik yang diberikan supermarket dan minimarket sekarang berlabelkan oxobag/oxium atau oxodegradable atau ada juga biodegradable bag  ?

Apabila kebetulan kantung plastik yang digunakan si ibu ternyata berjenis oxobag atau biodegradable bag, tetapi berlabel supermarket ternama mungkin tindakan si ibu akan mendapat tanggapan  beragam.


 "Sok banget sih, kantung plastik kan dikasi gratis, apa pingin yang berlabelkan supermarket ?

"Ah, si ibu itu pingin gaya aja, kelihatan pulang belanja dari supermarket padahal dari pasar tradisional."

Tanggapan yang cukup sadis, karena :
1. Minimarket kini mudah ditemui di jalan kecil nan becek sekalipun dengan harga beberapa produk lebih murah dibanding pasar tradisional menjadikan supermarket /minimarket bukan lagi tempat yang “wah” dan prestisius.
2. Kantung plastik yang disediakan umumnya mempunyai waktu urai pendek (2 tahun untuk oxobag dan 10 minggu biodegradable bag)  karenanya si ibu pembawa kresek  pastinya sudah menghitung dengan cermat, karena percuma juga kalau oxobag diperlakukan sekali pakai.
3. Bukan sesuatu yang mudah untuk bertindak berbeda walau benar, saya sering mendapat kernyitan dahi ketika mengeluarkan plastik bekas belanja telur, sehingga tidak usah mengambil plastik telur yang baru. Mungkin pembeli lain berpikir “Mahluk aneh apakah ini, pelit bener ? Plastik aja kok itungan !”

Tetapi komentar lebih banyak terlontar ketika saya mengeluarkan reusable bag atau tas pakai ulang yang terlipat kecil berbentuk dompet.
“Wah, ibu Global Warming ya ?”
Gantian saya yang mengernyit, emang apa artinya Global Warming ? Terlalu mengawang kontribusi terhadap Global Warming melalui tindakan sepele seperti membawa tas pakai ulang. Karenanya saya hanya menjawab :
“Ah nggak, Cuma pingin ngurangin kresek Bandung. Saya kan nggak pingin ada Bandung Lautan Sampah jilid 2”.
“Iya ya bu, sekarang aja disetiap pojok Bandung ada sampah, apalagi kalau TPA Sarimukti tutup tahun 2011."

Nah lo, setiap warga Bandung rupanya mafhum bahwa tahun 2011, Bandung akan terkena lampu merah sampah. Tetapi tidak semua warga menyadari bahwa kantung plastik (kresek) menjadi sarana penyebab bom sampah karena sampah organik yang terbungkus kantung plastik akan sulit membusuk bahkan mengeluarkan gas beracun. Berbeda halnya apabila warga mau membuang sampah organik ke lubang biopori atau mengkomposnya. Sedangkan si kresek silakan dipakai berulang ulang hingga sobek.

Sayangnya kresek yang dipakai berulang-ulang mudah sobek dan tampang kresek yang lecek membuat si pembawa kresek merasa jatuh merk dan nggak pede.
Solusinya adalah membawa tas pakai ulang (reusable bag). Banyak toserba memberikan tas pakai ulang gratis untuk sejumlah pembelian tertentu. Tas pakai ulang juga sering dibagikan di seminar dan workshop. Bahkan banyak supermarket mengiming-imingi tas pakai ulang berharga murah untuk sejumlah pembelian tertentu, biasanya dijual didekat kasir. Beberapa supermarket yang menjual tas pakai ulang adalah Superindo, Yogya dan Carrefour. 


Sayang si pembeli umumnya lupa membawa tas pakai ulangnya ketika berbelanja kembali ke supermarket. Mungkin karena berukuran besar dan tidak praktis. Sehingga pembeli yang lupa membawa dan pembeli yang hanya membeli beberapa jenis barang kembali kekebiasaan lama yaitu berbelanja dengan kantung plastic (kresek).
tas pakai ulang (doc.greeneration indonesia)
tas pakai ulang (doc.Greeneration Indonesia)
Beberapa alumni ITB yang tergabung dalam Greeneration Indonesia menjawab permasalahan ini dengan meluncurkan tas lipat berbentuk dompet. Tas ini ketika dibuka retsletingnya akan membentuk ukuran S,M,L atau XL sesuai kebutuhan kita. Bentuknya ? Mirip seperti tas kresek biasa, tapikeren abis karena mempunyai beraneka warna dengan motif batik atau polos. Sedangkan yang terbaru tas batik cangklongan yang membuat penggunanya pede abis !

Kebetulan saya punya beberapa buah. Ada tas untuk barang belanjaan basah (sayur, daging, tahu), tas belanjaan kering dan satu lagi khusus untuk telur karena di supermarketpun kresek telur biasanya dipisah. Sehingga memudahkan si ibu memperlakukan tas telur tersebut. Apa kelebihan tas lipat ini ? Sesuai dengan kebiasaan ibu rumah tangga yang langsung membereskan belanjaan. Sesudah kosong, tas belanjaan kering langsung dilipat dan masuk ke tas tangan lagi sedangkan tas yang basah dicuci untuk digunakan pada saat belanja berikutnya.

Sebetulnya tas lipat ini bukan penemuan baru. Saya ingat eyang buyut saya dulu selalu membawa tas semacam ini. Bahkan kita bisa membuatnya dari kain perca yang dibuang oleh penjahit pakaian.Banyak yang tidak mengetahui bahwa penjahit pakaian berkontribusi menambah sampah dengan membuang sampah kain perca berkarung-karung banyaknya ke TPA

Seorang difabel bernama pak Asep yang selama ini bergabung dengan Yayasan Kasa Indonesia memproduksi reusable bag dari kain-kain perca tersebut.
pak Asep di pameran Envirovolution ITB (doc. Maria Hardayanto)
pak Asep di pameran Envirovolution ITB (doc. Maria Hardayanto)
Produk-produknya  pernah dipamerkan di pameran Envirovolution ITB 2010, sayang hasil penjualan reusable bag dari kain perca pak Asep belum cukup memuaskan.

Selain itu reusable bag juga bisa terbuat dari kemasan plastik bekas detergen, kopi, pewangi atau pembersih lantai

Karena bekas kemasan plastik tersebut tidak "dilirik" oleh pemulung sekalipun, berhubung harganya yang murah. Bahkan kemasan plastik berlapis alumunium sama sekali tidak bisa di daur ulang lagi.

reusable bag hasil karya pak Asep

reusable bag terbuat dari bekas pasta gigi


reusable bag dari kemasan plastik bekas



reusable bag "jadul"




Tetap menerima kantung plastik yang berarti mendzalimi bumi , atau mengurangi penggunaannya bahkan mengganti dengan reusable bag adalah pilihan individu.
Pilihan itu bisa menjadi lifestyle yang berpotensi mengubah dunia. Apakah dunia dengan lingkungan hidup yang asri dan berkelanjutan. Ataukah dunia dengan bumi yang tertutup sampah.
Pilihan yang sebetulnya mudah selama kita berniat karena lingkungan hidup ini bukan warisan untuk kita melainkan titipan bagi anak cucu.
Setuju ?

Maria G. Soemitro

Komentar

Posting Komentar