Mengapa Harus Recycle ?

Jumat, 20 November 2009

Pertanyaan ini pasti akan pedas dilontarkan aktivis lingkungan hidup !
Karena recycle adalah pintu terakhir, ketika pintu pertama dan kedua yaitu reduce dan reuse sudah dicoba untuk dibuka .......
Tetapi mungkinkah mengharapkan kebiasaan menghamburkan kantung plastik(kresek) dapat dihentikan dengan mudah ?
Atau bahkan merubah paradigma berfikir konsumtif menjadi green konsumen ?
Perlu waktu lama ..............!!!
Perlu kerjasama banyak fihak : pemerintah dengan institusi yang terkait, produsen, LSM dan tentunya masyarakat yang sudah terlanjur "mencintai pola hidup instant" !

Selain itu bagaimana menyikapi serangan kemasan berwarna-warni yang menjadi wadah kebutuhan pokok masyarakat ?
Suatu mimpi yang aneh apabila mengharapkan konsumen membawa wadah sendiri untuk setiap item produk yang dibelinya .
Jalan satu-satunya hanyalah membuka pintu darurat yaitu recycle agar bekas kemasan tidak menumpuk.
Agar sekitar 20 % dari total sampah berkurang untuk direcycle menjadi produk berguna lainnya.
Mungkin menjadi kertas daur ulang, plastik daur ulang .......
Dan yang tengah kami rintis adalah kerajinan dari plastik bekas kemasan.
Bekas kemasan dibersihkan, digunting, dijahit atau dianyam menjadi berbagai kerajinan.
Itupun belum mencapai 20 % karena kesadaran masyarakat memisahkan sampah masih rendah.
Selain itu panjangnya proses produksi membuat banyak pelaku terhenti.
Panjangnya proses produksi yang menyangkut juga lamanya produksi mengakibatkan harga produk kerajinan menjadi tinggi.
Satu-satunya jalan adalah harus ada yang mengorganisir dengan profesional.
Ketika bekas-bekas kemasan tersebut disetorkan oleh pihak-pihak yang dengan sukarela memisahkan sampah harus segera direspons untuk diambil dan dikumpulkan di suatu tempat karena tidak semua bekas kemasan tersebut dapat langsung diproses.
Ada beberapa yang harus dicuci karena kotor.
Setelah dicuci harus dipilah dikeringkan , baru kemudian dibuat kerajinan.
Kerajinanpun harus dibuat sesuai pasar.
Karena tanpa pasar yang mau menerima dan membeli, produk recycle tersebut hanya seonggok sampah tak berarti.
Seonggok sampah yang berakhir di tempat sampah untuk dibuang oleh "si Emang sampah" ke TPS.

509041863350335216

Komentar